Awal Agustus 2007 lalu saya dapat kontak dia lagi, agak aneh juga sih biasanya telpon ato sms tidak pernah ditanggapi, tapi untuk kali ini telpon telponku di jawabnya. Seminggu berselang, aku berangkat ke Jakarta karena ditugaskan kantor. Sesampainya disana aku telpon dia sekali lagi dan buat janji ketemu. Alhamdulillah ya Allah dia tidak menolak, mengingat pertemuanku yang terakhir dengannya, aku marah marah sama dia. Karena sakit hati merasa ditinggalkan, dicampakan dan terbuang. Lewat sms kita tentukan tempat untuk ketemu di Sarinah, bahagia banget rasanya bisa ketemu dan ngobrol berdua lagi sama dia. Sejujurnya, aku punya misi untuk mengali cerita dari dia. Bukan bermaksud mengungkit masa lalu, tapi rasa penasaran yang amat mendalamlah yang membawa aku untuk selalu mencari tahu kabar tentangnya. Jam yang ditentukan sudah dekat, saat itu posisiku masih di sekitar Panglima Polim (Melawai). Pas jam 17.00 aku dapat sms dari dia, kalo dia sudah meluncur dari sekitaran Senin menuju ke arah Sarinah. Tapi ada yang mengecewakan aku, ternyata dia bawa teman. Tapi ,sudahlah toh aku juga bisa ngajak Dhani. Temanku yang juga ditugaskan kantor untuk menjual paket iklan Ramadhan pada biro - biro iklan yang ada di Jakarta. Di dalam Taxi aku sudah mencoba membayangkan wajahnya, senyumnya, jahilnya, dan seluruh ke khasannya yang sudah amat sangat aku kenal sejak tahun 1998. Maklum saja, kita sudah pacaran sejak tahun itu dan dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita berdua akhir September 2003 pas tanggal 30. Jadi aku sempat merasakan perih dan sakit, seperti merasakan juga kena pemberontakan PKI pada tanggal 30 September 1965. Begitu taxi yang aku tumpangi akan melewati U turn di Sarinah, aku dapat sms lagi dari dia kalau dia dan temannya nunggu di Pizza Hut seberang kanan Plaza Sarinah. Sekali lagi aku kecewa, kenapa tempat yang amat ramai yang dia pilih. sampailah aku di Plasa Sarinah dan berusaha menyeberangi jalan menuju ke arah Pizza Hut sembari membayangkan seperti apa wajahnya sekarang ini? Terakhir yang aku ingat rambutnya masih pendek tidak sampai sebahu. Begitu masuk di pintu Pizza Hut ada tanggan melambai sesosok wajah yang amat sangat aku kenal dibalut dengan busana warna merah dan ditutupi jilbab nan indah berwarna senada. Buyar sudah bayanganku, aku sempat membayangkan untuk dapat memeluknya, meremas jari jari lentik tangannya sambil bilang aku kangen kamu. Anjriit, sok melo banget aku, he he he. Sambil terbengong bengong kupandangi dia, tak secuilpun berubah walaupun dia kini sudah berbeda karena baju kesehariannya menggenakan Jibab. Ya... dialah wanita yang dulu sangat kuinginkan untuk mendampingiku menjalani hidup. Sambil duduk kemudian makan Pizza dan sedikit bicara dengan dia, pikiranku melayang kemana - mana. Memori yang sudah lama aku simpan aku buka buka lagi dalam otakku, selembar demi selembar kubuka tapi tak sedikitpun yang ingin kuungkit lagi dengannya. To be Continued
Mengenai Saya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar